Oleh Prof
Dr Yunahar Ilyas
Beberapa kali Abdurrahman bin Auf menyaksikan Umar shalat sunah di rumahnya.
Yang menarik perhatiannya, bukanlah tata cara shalatnya, melainkan sajadah yang
biasa digunakan Umar. Seorang kepala kegara dengan wilayah kekuasaan yang
membentang luas sampai Mesir, berhasil mengalahkan dua imperium besar, Romawi
Timur dan Persia, justru shalat di atas sajadah yang usang. Timbul rasa
bersalah dalam hati Abdurrahman. Ia ingin membelikan sajadah baru yang mahal
dan indah untuk sang Amirul Mukminin.
Tetapi, Abdurrahman ragu, apakah Umar mau menerimanya. Dia tahu persis watak
Umar yang tidak mau diberi hadiah apa pun walau hanya selembar sajadah.
Abdurrahman akhirnya memberikan sebuah sajadah melalui istri Umar, Ummu
Abdillah. Melihat sajadah baru, Umar memanggil istrinya dan menanyakan siapa
yang memberi sajadah ini. "Abdurrahman bin Auf," jawab
istrinya. "Kembalikan sajadah ini kepada Abdurrahman. Saya sudah cukup puas
dengan sajadah yang saya miliki." Begitulah watak Umar bin Khattab. Tidak
hanya adil dan bijaksana, beliau dikenal dengan sifat zuhudnya, hidup
sederhana. Tidak hanya untuk ukuran seorang kepala negara, bahkan bagi orang
biasa sekalipun.
Suatu hari, Umar melakukan perjalanan dinas mengunjungi satu provinsi yang
berada di bawah kekuasaannya. Gubernur menjamu Umar makan malam dengan jamuan
yang istimewa, sebagaimana lazimnya perjamuan untuk kepala negara. Begitu duduk
di depan meja hidangan, Umar kemudian bertanya kepada sang gubernur,
"Apakah hidangan ini adalah makanan yang biasa dinikmati oleh seluruh
rakyatmu?"
Dengan gugup, sang gubernur menjawab, "Tentu tidak, wahai Amirul Mukmini.
Ini adalah hidangan istimewa untuk menghormati baginda." Umar lantas
berdiri dan bersuara keras, "Demi Allah, saya ingin menjadi orang terakhir
yang menikmatinya. Setelah seluruh rakyat dapat menikmati hidangan seperti ini,
baru saya akan memakannya." Itulah sifat Umar bin Khattab, seorang kepala
negara yang zuhud.
Di lain kesempatan, sehabis shalat Zhuhur, Umar meminta selembar permadani
Persia yang indah untuk dibawa pulang ke rumahnya. Tentu saja, hal ini membuat
para sahabat heran. Hari itu, Umar bin Khattab membagi harta rampasan perang
yang dibawa oleh pasukan Sa'ad bin Abi Waqqash yang berhasil menaklukkan Kota
Madain, ibu kota imperium Persia.
Pakaian kebesaran Kisra lengkap dengan mahkotanya diberikan oleh Umar kepada
seorang Badui yang kemudian memakainya dengan gembira. Satu demi satu
barang-barang berharga dibagi-bagikan oleh Umar kepada para sahabat dan
masyarakat banyak waktu itu. Yang tersisa hanya selembar permadani indah. Umar
pun memintanya. "Bagaimana pendapat kalian, jika permadani ini aku bawa
pulang ke rumahku?" Gembira bercampur kaget, para sahabat tergopoh-gopoh
menyetujuinya. "Tentu saja wahai Amirul Mukminin, kami setuju sekali Anda
membawanya pulang."
Ketika tiba waktu Ashar, Umar membawa kembali permadani tersebut. Kali ini,
permadani itu sudah dipotong-potong menjadi bagian kecil-kecil, dan Umar
membagikan kepada beberapa sahabatnya. Dengan senyum, Umar berkata,
"Hampir saja saya tergoda oleh permadani indah ini." Masya Allah,
begitulah Umar, sang kepala negara.