Monday, December 12, 2011

Ucapan Terima kasih

Segala puja dan puji bagi Allah SWT  yang telah banyak memberikan hidayah, karunia dan nikmat yang tidak terhingga, sehingga kita masih diberikan kesehatan, waktu dan aktifitas untuk meraih keridhoan-Nya demi mendapatkan kemenangan yang hakiki di dunia maupun di Akhirat yang akan datang. Dan tidak pernah terlupakan Salam dan Shalawat selalu tercurahkan kepada suri tauladan dan junjungan kita Nabiyullah, Rasullullah Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat-sahabatnya dan semoga kita adalah bagian umatnya yang akan mendapat Syafaatnya. 
Sehubungan dengan telah berlangsungnya  hari besar Islam Idul Adha 1432 H, maka dengan ini kami selaku Panitia Qurban Perguruan Bela Diri Tenaga Dalam Islam Prana Sakti Pusat Yogyakarta, mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada para sohibul qurban baik dari anggota Prana Sakti maupun dari masyarakat umum, seluruh anggota Prana Sakti Pusat dan daerah, serta semua pihak yang telah dengan ikhlas ikut berpartisipasi dalam kegiatan qurban pada hari raya Iedul Adha tahun 1432 H ini.
Semoga ALLAH SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita hingga akhir jaman dan di beri kesempatan untuk kembali berkurban ditahun-tahun yang akan datang, amin..ya robbal alaamiin…
Jogjakarta,   20  November 2011
Hormat kami,

Panitia Qurban Iedul Adha 1432 H
Perguruan Beladiri Tenaga Dalam Islam Prana Sakti Pusat - Yogyakarta

Sunday, November 13, 2011

Bertakwalah di Mana Saja Engkau Berada!

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam untuk Rasulullah, sayyidul anam, beserta keluarga, dan para sahabatnya.

Di awal pekan ke tiga bulan Maret, kami  sapa kepada pembaca situs berita Islam www.voa-islam.com dengan berpesan dan berwasiat untuk senantiasa bertakwa kepada Allah. Pesan wasiat Allah dalam kitab-Nya dan Rasulullah dalam sunnahnya. Wasiat untuk orang terdahulu dan yang akan datang. Wasiat setiap rasul kepada kaumnya.
وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ
"Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah." (QS. Al Nisa': 131)
Ibnul Qayyim dalam Fawaid-nya mengatakan, "Nabi Sulaiman 'alaihis salam berkata, 'kami telah mempelajari semua ilmu yang telah dipelajari manusia dan belum mereka pelajari. Namun, kami tidak mendapatkan ilmu yang paling agung daripada bertakwa kepada Allah. Karena itulah bila engkau ingin memberi nasehat kepada seseorang yang engkau cintai; anakmu, temanmu, atau tetanggamu, maka nasihatilah mereka agar bertakwa kepada Allah'."
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwasiat kepada Mu'adz bin Jabal ketika pergi ke Yaman dan disampaikan juga kepada Abu Dzar al Ghifari radliyallah 'anhu:
اتَّقِ الله حَيثُمَا كُنْتَ ، وأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمحُهَا ، وخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ
"Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya (perbuatan baik) akan menghapusnya (perbuatan buruk). Dan berperilakulah terhadap sesama manusia dengan akhlak yang baik." (HR. Ahmad dan al Tirmidzi, beliau menghasankannya).
Makna bertakwa di mana pun berada
Maksud sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada" adalah bertakwa kepada Allah di manapun berada, baik di tempat sepi maupun di tempat ramai. Bertakwalah di semua situasi dan kondisi. Jangan lah engkau bertakwa ketika berada di tengah-tengah manusia, namun ketika sendiri engkau tidak bertakwa. Sesungguhnya Allah melihat kamu di manapun kamu berada, maka bertakwalah kepada-Nya di manapun kamu berada.
Sebagian ulama salaf berkata, "wahai anak Adam, ketika kamu melakukan kemaksiatan mengapa kamu beranggapan ada Dzat yang mengawasimu. Dan ketika kamu merasa bersama Allah mengapa kamu tetap melakukan kemaksiatan dan tidak malu sebagaimana kamu malu kepada makhluk-Nya. Kamu adalah salah satu dari dua orang; pertama, jika kamu mengora Dia tidak melihatmu, maka kamu telah kafir. Kedua, dan jika kamu tahu bahwa Dia melihatmu (sedangkan kamu tidak malu sebagaimana kamu malu terhadap makhluk-Nya yang lemah) maka kamu telah lancang."
Kamu adalah salah satu dari dua orang;
Pertama, jika kamu mengira Dia tidak melihatmu, maka kamu telah kafir.
Kedua, dan jika kamu tahu bahwa Dia melihatmu (sedangkan kamu tidak malu sebagaimana kamu malu terhadap makhluk-Nya yang lemah) maka kamu telah lancang.
Kenapa harus bertakwa?
Sesungguhnya hamba sangat membutuhkan takwa dalam segala kondisi. Bahkan kebutuhan kita kepada takwa lebih dari butuhnya kepada air dan udara. Karena siapa yang bertakwa kepada Allah akan mendapatkan solusi dari setiap persoalan yang dihadapinya, akan mendapatkan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka, mendapat petunjuk kepada kebenaran sehingga bisa membedakan yang hak dan yang batil, mendapat tambahan ilmu, dan masih banyak manfaat takwa lainnya. pada intinya bahwa takwa adalah pokok segala kebaikan dan sumber dari segala kebaikan dunia dan akhirat. Karenanya, Allah berwasiat sendiri kepada hamba-hamba-Nya yang terdahulu dan yang kemudian.
Sebaliknya, siapa yang tidak bertakwa kepada Allah akan mengalami kehinaan dan segala persoalannya tak akan beres. Sesunggunya maksiat yang menjadi lawan takwa, akan menyebabkan keruhnya hidup, menghalangi rizki, dan menyebabkan kerasnya hati.
Abu Sulaiman al Darani rahimahullah berkata, "Demi Allah kadang aku bermaksiat kepada Allah, lalu aku merasakan (pengaruhnya itu) pada watak hewanku dan juga istriku." Artinya sampai hewanpun tidak setuju dengannya.
Apa itu takwa?
Asal makna takwa adalah upaya hamba menjadikan batas pelindung antara dirinya dengan sesuatu yang dia takuti dan khawatirkan, agar selamat darinya. Maka hamba yang bertakwa kepada Rabb-Nya adalah menjadikan batas pelindung antara dirinya dengan murka dan siksa Tuhannya, yaitu dengan mentaati perintah-Nya dan menjauhi maksiat.
Imam an Nawawi rahimahullah berkata bahwa takwa adalah istilah tentang melaksanakan segala kewajiban dan meninggalkan segala larangan.
Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan bahwa takwa artinya melakukan perintah dan meninggalkan larangan.
Thuluq ibnu Habib rahimahullah berkata tentang takwa, "engkau melaksanakan ketaatan (melaksanakan perintah), di atas cahaya dari Allah (ilmu), dengan berharap pahala dari Allah. Dan engkau meninggalkan maksiat terhadap Allah, di atas cahaya Allah dari Allah, karena takut terhadap hukuman Allah."
Imam Ali bin Abi Thalib radliyallah 'anhu berkata, "takwa adalah al Khaufu minal Jalil (takut kepada Allah yang Mahaagung), al 'Amal bil Tanziili (mengamalkan al Qur'an dan al Sunnah), al Ridla bil Qalil (ridla atas pembagian rizki yang sedikit), dan al isti'dad liyaum al Rahiil (mempersiapkan diri untuk perjalanan di akhriat)."
Sifat takwa dalam Al Qur'an
Al Qur'an al Kariim tidak menyebutkan takwa secara definitif. Al Qur'an menyebutkannya dengan sifat-sifat orang bertakwa yang mudah di tiru dan diteladani orang yang bertakwa.
Berikut ini beberapa ayat yang menerangkan sifat-sifat takwa:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (QS. Al Baqarah: 177)
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Ali Imran: 133-135)
Al Qur'an menyifati orang-orang bertakwa sebagai kaum yang mengimani pokok-pokok keimanan, memegang keyakinannya, mengamalkan amal dzahir dan amal batin, menunaikan ibadah-ibadah badaniyah (fisik) dan ibadah harta, bersabar dalam kesempitan dan ketika dalam peperangan, memaafkan orang lain, bersabar terhadap gangguan orang lain dan berbuat baik kepada mereka, segera beristighfar dan bertaubat ketika melakukan perbuatan nista dan mendzalimi diri sendiri.
Berarti hanya orang Islam dan beriman saja yang bisa bertakwa kepada Allah. Selain orang Islam, sebaik apapun amal perbuatannya, tidak bisa disebut orang bertakwa.
Semoga Allah senantiasa menambah ketakwaan kepada kita dan membantu kita dalam bertakwa kepada-Nya untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat. Amiin…

Oleh: Badrul Tamam

Sunday, November 06, 2011

IDUL ADHA 1432H

PRANA SAKTI PUSAT MENGUCAPKAN SELAMAT 
HARI RAYA IDUL ADHA 1432H 

SEMOGA DENGAN BERQURBAN ALLAH SWT MENJADIKAN HATI KITA SEMAKIN TUNDUK DAN TAAT MENJALANKAN SEGALA PERINTAH ALLAH DAN MENJAUHI SEGALA LARANGAN ALLAH SWT. AMIIN

PRANA SAKTI
H. ZEIN PANJAITAN

Friday, October 14, 2011

Kerendahan Hati Sang Kepala Negara

Oleh Prof Dr Yunahar Ilyas

Beberapa kali Abdurrahman bin Auf menyaksikan Umar shalat sunah di rumahnya. Yang menarik perhatiannya, bukanlah tata cara shalatnya, melainkan sajadah yang biasa digunakan Umar. Seorang kepala kegara dengan wilayah kekuasaan yang membentang luas sampai Mesir, berhasil mengalahkan dua imperium besar, Romawi Timur dan Persia, justru shalat di atas sajadah yang usang. Timbul rasa bersalah dalam hati Abdurrahman. Ia ingin membelikan sajadah baru yang mahal dan indah untuk sang Amirul Mukminin.

Tetapi, Abdurrahman ragu, apakah Umar mau menerimanya. Dia tahu persis watak Umar yang tidak mau diberi hadiah apa pun walau hanya selembar sajadah.

Abdurrahman akhirnya memberikan sebuah sajadah melalui istri Umar, Ummu Abdillah. Melihat sajadah baru, Umar memanggil istrinya dan menanyakan siapa yang memberi sajadah ini. "Abdurrahman bin Auf,"  jawab istrinya. "Kembalikan sajadah ini kepada Abdurrahman. Saya sudah cukup puas dengan sajadah yang saya miliki." Begitulah watak Umar bin Khattab. Tidak hanya adil dan bijaksana, beliau dikenal dengan sifat zuhudnya, hidup sederhana. Tidak hanya untuk ukuran seorang kepala negara, bahkan bagi orang biasa sekalipun.

Suatu hari, Umar melakukan perjalanan dinas mengunjungi satu provinsi yang berada di bawah kekuasaannya. Gubernur menjamu Umar makan malam dengan jamuan yang istimewa, sebagaimana lazimnya perjamuan untuk kepala negara. Begitu duduk di depan meja hidangan, Umar kemudian bertanya kepada sang gubernur, "Apakah hidangan ini adalah makanan yang biasa dinikmati oleh seluruh rakyatmu?"

Dengan gugup, sang gubernur menjawab, "Tentu tidak, wahai Amirul Mukmini. Ini adalah hidangan istimewa untuk menghormati baginda." Umar lantas berdiri dan bersuara keras, "Demi Allah, saya ingin menjadi orang terakhir yang menikmatinya. Setelah seluruh rakyat dapat menikmati hidangan seperti ini, baru saya akan memakannya." Itulah sifat Umar bin Khattab, seorang kepala negara yang zuhud.

Di lain kesempatan, sehabis shalat Zhuhur, Umar meminta selembar permadani Persia yang indah untuk dibawa pulang ke rumahnya. Tentu saja, hal ini membuat para sahabat heran. Hari itu, Umar bin Khattab membagi harta rampasan perang yang dibawa oleh pasukan Sa'ad bin Abi Waqqash yang berhasil menaklukkan Kota Madain, ibu kota imperium Persia.

Pakaian kebesaran Kisra lengkap dengan mahkotanya diberikan oleh Umar kepada seorang Badui yang kemudian memakainya dengan gembira. Satu demi satu barang-barang berharga dibagi-bagikan oleh Umar kepada para sahabat dan masyarakat banyak waktu itu. Yang tersisa hanya selembar permadani indah. Umar pun memintanya. "Bagaimana pendapat kalian, jika permadani ini aku bawa pulang ke rumahku?" Gembira bercampur kaget, para sahabat tergopoh-gopoh menyetujuinya. "Tentu saja wahai Amirul Mukminin, kami setuju sekali Anda membawanya pulang."

Ketika tiba waktu Ashar, Umar membawa kembali permadani tersebut. Kali ini, permadani itu sudah dipotong-potong menjadi bagian kecil-kecil, dan Umar membagikan kepada beberapa sahabatnya. Dengan senyum, Umar berkata, "Hampir saja saya tergoda oleh permadani indah ini." Masya Allah, begitulah Umar, sang kepala negara.