Tuesday, December 20, 2011

Sudahkan Kita Merasakan Nikmatnya Ibadah?

Sesungguhnya ibadah itu memiliki rasa nikmat, kebahagiaan dan ketentraman yang hanya bisa diketahui oleh orang yang merasakannya. Bahkan, kesempurnaan ibadah seseorang ditandai kalau dia bisa merasakan bahwa ibadah itu nikmat. Karenanya, ia akan mengesampingkan segala kenikmatan dunia untuk mencapai kenikmatan tersebut.
Kenikmatan ibadah merupakan buah dari keimanan yang menancap kuat dalam diri seorang hamba lalu dibuktikannya dengan melaksanakan ibadah dan beramal shalih. Maka dalam ibadah dan amal shalih yang didasari iman dan muncul dari keimanan yang bisa melahirkan kenikmatan dan kelezatan serta kebahagiaan.

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda berkaitan dengan kenikmatan ibadah ini,

ذَاقَ طَعْم الْإِيمَان مَنْ رَضِيَ بِاَللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولًا

“Pasti akan merasakan manisnya iman orang yang ridla Allah sebagai Rabb, Islam sebagai dien/aturan hidup, dan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sebagai rasul.” (HR. Muslim dari al Abbas bin Abdil Muthalib).

Kenikmatan ibadah merupakan buah dari keimanan yang menancap kuat dalam diri seorang hamba lalu dibuktikannya dengan melaksanakan ibadah dan beramal shalih.

Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, kalau tiga keridlaan ini ada dalam diri seseorang maka dia menjadi orang yang benar-benar jujur dalam beriman. Hal ini sesuai dengan firman Allah,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu lagi, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. al Hujurat: 15)

Dalam Shahihain, dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “tiga hal yang terdapat dalam diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, tidaklah ia mencintai seseorang kecuali karena Allah, dan ia benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.”

Dalam riwayat Imam Ahmad, dari Abu Razin al ‘Uqaili rahimahullah, “apabila kamu seperti itu maka benar-benar iman sudah masuk ke dalam hatimu sebagaimana masuknya kecintaan kepada air bagi orang yang kehausan di tengah hari yang terik.”

Makna manisnya iman adalah nikmatnya melaksanakan ketaatan dan menanggung beban berat dalam melaksanakan sesuatu yang diridlai Allah an Rasul-Nya serta mengutamakan hal tersebut atas tawaran dunia.

Makna manisnya iman adalah nikmatnya melaksanakan ketaatan dan menanggung beban berat dalam melaksanakan sesuatu yang diridlai Allah 'Azza wa Jala dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam serta mengutamakan hal tersebut atas tawaran dunia.

Ibnul Qayim bercerita tentang gurunya, Ibnu Taimiyah: “sungguh aku pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “sesungguhnya di dalam dunia ada sebuah surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan bisa memasuki surga akhirat.”

sesungguhnya di dalam dunia ada sebuah surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan bisa memasuki surga akhirat.” Ibnu Taimiyah

Pada suatu hari ia juga bercerita kepadaku, “apa yang yang akan dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya surgaku dan tamanku ada di dalam dadaku. Kemanapun aku pergi ia selalu bersamaku. Sungguh penjaraku adalah khalwat (menyepi)ku bersama Allah, kematianku adalah kesyahidan, dan pengusiran diriku dari negeriku adalah tamasya.”

Dalam penjaranya di sebuah benteng, Ibnu Taimiyah berkata, “jika benteng bersama isinya ini diganti dengan emas, tentu itu tidak imbang dengan nilai syukurku kepada Allah atas nikmat ini.” Atau dengan ungkapan lain, pahala kebaikan dari ibadah yang dilakukannya di dalam benteng penjaranya tidak bisa diukur dengan banyaknya kemewahan dunia.

Dalam sujud di tempat penjaranya, beliau berdoa, “Ya Allah mudahkanlah diriku untuk berdzikir kepadamu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.” Kemudian beliau berkata kepadaku, “penjara adalah untuk orang yang ingin memenjarakan hatinya hanya buntuk Allah, sedangkan istana adalah untuk orang yang ingin mengumbar nafsunya.”

Ketika Ibnu Taimiyaha sudah ke dalam benteng penjara dan ia melihar pagar tembok tinggi yang memagarinya, maka ia membaca ayat Al Qur’an,

فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ

“lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di bagian dalamnya ada rahmat dan di bagian luarnya ada adzab.” (QS. Al Hadid: 13)

Demi ilmu Allah, dan aku tidak melihat seseorang pun yang hidupnya lebih bahagia daripada Ibnu Taimiyah, walaupun ia berada pada sempitnya penghidupan, tiadanya kesejahteraan dan kenikmatan. Justru aku melihat kebalikannya. Memang ia berada dalam penjara, intimidasi dan siksaan, namun ia adalah manusia yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling kuat hatinya dan paling tenang jiwanya sampai kebahagiaan dan kedamaiannya memancarkan cahaya di wajahnya.

Demi ilmu Allah, dan aku tidak melihat seseorang pun yang hidupnya lebih bahagia daripada Ibnu Taimiyah, walaupun ia berada pada sempitnya penghidupan, tiadanya kesejahteraan dan kenikmatan.

Jika kami dihantui ketakutan dan dihimpit urusan dunia, maka kami datang kepadanya. Tatkala kami melihatnya dan mendengarnya petuahnya, maka hilanglah segala ketakutan dan kehinaan. Setelah itu kami menjadi bahagia, kuat, yakin, dan tenang. Mahasuci Allah yang telah menunjukkan surga kepada hamba-hamba-Nya sebelum mereka bertemu dengan-Nya. Maha Suci Allah yang telah membukakan pintu-pintu surga di dunia sehingga mereka merasakan kedamaian, kebahagiaan, dan kebaikan selama mereka terus berusaha dan berlomba-lomba untuk mendapatkannya.” (Al Wabilush Shayyib, karya Ibnul Qayim, hal. 63)

Sebagian ulama mengatakan, “orang miskin di dunia yang sebenarnya adalah orang yang meninggalkan dunia, sementara mereka belum pernah merasakan yang paling indah di dalamnya, yaitu cinta kepada Allah dan beribadah kepada-Nya.”

Orang miskin di dunia adalah orang yang belum pernah merasakan cinta kepada Allah dan nikmatnya beribadah kepada-Nya.

Orang-orang shaleh merasakan kebahagiaan hidup dengan shalat, ibadah dan dzikir malam. Karena itu ada ada salah seorang dari mereka sampai mengatakan, “selama empat puluh tahun aku tidak meras sedih melainkan sedih atas datangnya waktu siang.”

Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “ketika matahari terbenam, aku akan menjadi bahagia. Karena dalam kegelapan malam aku bermunajat kepada Allah.”

. . . kenikmatan yang dirasakan orang-orang yang beribadah pada malam hari lebih terasa nikmat daripada hiburan orang-orang yang berfoya-foya di siang hari. . .

Abu Sulaiman ad Darani rahimahullah berkata, “kenikmatan yang dirasakan orang-orang yang beribadah pada malam hari lebih terasa nikmat daripada hiburan orang-orang yang berfoya-foya di siang hari. Jika bukan karena waktu malam, maka aku tidak suka berlama-lama hidup di dunia.” 
Oleh: Badrul Tamam

Monday, December 12, 2011

Ucapan Terima kasih

Segala puja dan puji bagi Allah SWT  yang telah banyak memberikan hidayah, karunia dan nikmat yang tidak terhingga, sehingga kita masih diberikan kesehatan, waktu dan aktifitas untuk meraih keridhoan-Nya demi mendapatkan kemenangan yang hakiki di dunia maupun di Akhirat yang akan datang. Dan tidak pernah terlupakan Salam dan Shalawat selalu tercurahkan kepada suri tauladan dan junjungan kita Nabiyullah, Rasullullah Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat-sahabatnya dan semoga kita adalah bagian umatnya yang akan mendapat Syafaatnya. 
Sehubungan dengan telah berlangsungnya  hari besar Islam Idul Adha 1432 H, maka dengan ini kami selaku Panitia Qurban Perguruan Bela Diri Tenaga Dalam Islam Prana Sakti Pusat Yogyakarta, mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada para sohibul qurban baik dari anggota Prana Sakti maupun dari masyarakat umum, seluruh anggota Prana Sakti Pusat dan daerah, serta semua pihak yang telah dengan ikhlas ikut berpartisipasi dalam kegiatan qurban pada hari raya Iedul Adha tahun 1432 H ini.
Semoga ALLAH SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita hingga akhir jaman dan di beri kesempatan untuk kembali berkurban ditahun-tahun yang akan datang, amin..ya robbal alaamiin…
Jogjakarta,   20  November 2011
Hormat kami,

Panitia Qurban Iedul Adha 1432 H
Perguruan Beladiri Tenaga Dalam Islam Prana Sakti Pusat - Yogyakarta

Sunday, November 13, 2011

Bertakwalah di Mana Saja Engkau Berada!

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam untuk Rasulullah, sayyidul anam, beserta keluarga, dan para sahabatnya.

Di awal pekan ke tiga bulan Maret, kami  sapa kepada pembaca situs berita Islam www.voa-islam.com dengan berpesan dan berwasiat untuk senantiasa bertakwa kepada Allah. Pesan wasiat Allah dalam kitab-Nya dan Rasulullah dalam sunnahnya. Wasiat untuk orang terdahulu dan yang akan datang. Wasiat setiap rasul kepada kaumnya.
وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ
"Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah." (QS. Al Nisa': 131)
Ibnul Qayyim dalam Fawaid-nya mengatakan, "Nabi Sulaiman 'alaihis salam berkata, 'kami telah mempelajari semua ilmu yang telah dipelajari manusia dan belum mereka pelajari. Namun, kami tidak mendapatkan ilmu yang paling agung daripada bertakwa kepada Allah. Karena itulah bila engkau ingin memberi nasehat kepada seseorang yang engkau cintai; anakmu, temanmu, atau tetanggamu, maka nasihatilah mereka agar bertakwa kepada Allah'."
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berwasiat kepada Mu'adz bin Jabal ketika pergi ke Yaman dan disampaikan juga kepada Abu Dzar al Ghifari radliyallah 'anhu:
اتَّقِ الله حَيثُمَا كُنْتَ ، وأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمحُهَا ، وخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ
"Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya (perbuatan baik) akan menghapusnya (perbuatan buruk). Dan berperilakulah terhadap sesama manusia dengan akhlak yang baik." (HR. Ahmad dan al Tirmidzi, beliau menghasankannya).
Makna bertakwa di mana pun berada
Maksud sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada" adalah bertakwa kepada Allah di manapun berada, baik di tempat sepi maupun di tempat ramai. Bertakwalah di semua situasi dan kondisi. Jangan lah engkau bertakwa ketika berada di tengah-tengah manusia, namun ketika sendiri engkau tidak bertakwa. Sesungguhnya Allah melihat kamu di manapun kamu berada, maka bertakwalah kepada-Nya di manapun kamu berada.
Sebagian ulama salaf berkata, "wahai anak Adam, ketika kamu melakukan kemaksiatan mengapa kamu beranggapan ada Dzat yang mengawasimu. Dan ketika kamu merasa bersama Allah mengapa kamu tetap melakukan kemaksiatan dan tidak malu sebagaimana kamu malu kepada makhluk-Nya. Kamu adalah salah satu dari dua orang; pertama, jika kamu mengora Dia tidak melihatmu, maka kamu telah kafir. Kedua, dan jika kamu tahu bahwa Dia melihatmu (sedangkan kamu tidak malu sebagaimana kamu malu terhadap makhluk-Nya yang lemah) maka kamu telah lancang."
Kamu adalah salah satu dari dua orang;
Pertama, jika kamu mengira Dia tidak melihatmu, maka kamu telah kafir.
Kedua, dan jika kamu tahu bahwa Dia melihatmu (sedangkan kamu tidak malu sebagaimana kamu malu terhadap makhluk-Nya yang lemah) maka kamu telah lancang.
Kenapa harus bertakwa?
Sesungguhnya hamba sangat membutuhkan takwa dalam segala kondisi. Bahkan kebutuhan kita kepada takwa lebih dari butuhnya kepada air dan udara. Karena siapa yang bertakwa kepada Allah akan mendapatkan solusi dari setiap persoalan yang dihadapinya, akan mendapatkan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka, mendapat petunjuk kepada kebenaran sehingga bisa membedakan yang hak dan yang batil, mendapat tambahan ilmu, dan masih banyak manfaat takwa lainnya. pada intinya bahwa takwa adalah pokok segala kebaikan dan sumber dari segala kebaikan dunia dan akhirat. Karenanya, Allah berwasiat sendiri kepada hamba-hamba-Nya yang terdahulu dan yang kemudian.
Sebaliknya, siapa yang tidak bertakwa kepada Allah akan mengalami kehinaan dan segala persoalannya tak akan beres. Sesunggunya maksiat yang menjadi lawan takwa, akan menyebabkan keruhnya hidup, menghalangi rizki, dan menyebabkan kerasnya hati.
Abu Sulaiman al Darani rahimahullah berkata, "Demi Allah kadang aku bermaksiat kepada Allah, lalu aku merasakan (pengaruhnya itu) pada watak hewanku dan juga istriku." Artinya sampai hewanpun tidak setuju dengannya.
Apa itu takwa?
Asal makna takwa adalah upaya hamba menjadikan batas pelindung antara dirinya dengan sesuatu yang dia takuti dan khawatirkan, agar selamat darinya. Maka hamba yang bertakwa kepada Rabb-Nya adalah menjadikan batas pelindung antara dirinya dengan murka dan siksa Tuhannya, yaitu dengan mentaati perintah-Nya dan menjauhi maksiat.
Imam an Nawawi rahimahullah berkata bahwa takwa adalah istilah tentang melaksanakan segala kewajiban dan meninggalkan segala larangan.
Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan bahwa takwa artinya melakukan perintah dan meninggalkan larangan.
Thuluq ibnu Habib rahimahullah berkata tentang takwa, "engkau melaksanakan ketaatan (melaksanakan perintah), di atas cahaya dari Allah (ilmu), dengan berharap pahala dari Allah. Dan engkau meninggalkan maksiat terhadap Allah, di atas cahaya Allah dari Allah, karena takut terhadap hukuman Allah."
Imam Ali bin Abi Thalib radliyallah 'anhu berkata, "takwa adalah al Khaufu minal Jalil (takut kepada Allah yang Mahaagung), al 'Amal bil Tanziili (mengamalkan al Qur'an dan al Sunnah), al Ridla bil Qalil (ridla atas pembagian rizki yang sedikit), dan al isti'dad liyaum al Rahiil (mempersiapkan diri untuk perjalanan di akhriat)."
Sifat takwa dalam Al Qur'an
Al Qur'an al Kariim tidak menyebutkan takwa secara definitif. Al Qur'an menyebutkannya dengan sifat-sifat orang bertakwa yang mudah di tiru dan diteladani orang yang bertakwa.
Berikut ini beberapa ayat yang menerangkan sifat-sifat takwa:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (QS. Al Baqarah: 177)
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Ali Imran: 133-135)
Al Qur'an menyifati orang-orang bertakwa sebagai kaum yang mengimani pokok-pokok keimanan, memegang keyakinannya, mengamalkan amal dzahir dan amal batin, menunaikan ibadah-ibadah badaniyah (fisik) dan ibadah harta, bersabar dalam kesempitan dan ketika dalam peperangan, memaafkan orang lain, bersabar terhadap gangguan orang lain dan berbuat baik kepada mereka, segera beristighfar dan bertaubat ketika melakukan perbuatan nista dan mendzalimi diri sendiri.
Berarti hanya orang Islam dan beriman saja yang bisa bertakwa kepada Allah. Selain orang Islam, sebaik apapun amal perbuatannya, tidak bisa disebut orang bertakwa.
Semoga Allah senantiasa menambah ketakwaan kepada kita dan membantu kita dalam bertakwa kepada-Nya untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat. Amiin…

Oleh: Badrul Tamam