Prana Sakti adalah perguruan bela diri tenaga dalam yang berasaskan Islam yang berpusat di jogjakarta dan memiliki cabang dibanyak kota besar diindonesia diantaranya Medan, Palembang, Lampung, Jakarta, bandung, Bengkulu, Jambi, Padang, Riau, Semarang, Magelang, Boyolali, Ujung Pandang, Pare-pare, Kolaka dan lainnya.bahkan memiliki anggota di luar negeri diantaranya Malaysia, Thailand, Jerman dan lain-lain.
Monday, February 13, 2012
Tuesday, December 20, 2011
Sudahkan Kita Merasakan Nikmatnya Ibadah?
Sesungguhnya
ibadah itu memiliki rasa nikmat, kebahagiaan dan ketentraman yang hanya bisa
diketahui oleh orang yang merasakannya. Bahkan, kesempurnaan ibadah seseorang
ditandai kalau dia bisa merasakan bahwa ibadah itu nikmat. Karenanya, ia akan
mengesampingkan segala kenikmatan dunia untuk mencapai kenikmatan tersebut.
Kenikmatan
ibadah merupakan buah dari keimanan yang menancap kuat dalam diri seorang hamba
lalu dibuktikannya dengan melaksanakan ibadah dan beramal shalih. Maka dalam
ibadah dan amal shalih yang didasari iman dan muncul dari keimanan yang bisa
melahirkan kenikmatan dan kelezatan serta kebahagiaan.
Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda berkaitan dengan kenikmatan
ibadah ini,
ذَاقَ
طَعْم الْإِيمَان مَنْ رَضِيَ بِاَللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا
وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولًا
“Pasti
akan merasakan manisnya iman orang yang ridla Allah sebagai Rabb, Islam sebagai
dien/aturan hidup, dan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sebagai
rasul.” (HR. Muslim dari al Abbas bin Abdil Muthalib).
Kenikmatan
ibadah merupakan buah dari keimanan yang menancap kuat dalam diri seorang hamba
lalu dibuktikannya dengan melaksanakan ibadah dan beramal shalih.
Menurut
Ibnul Qayyim rahimahullah, kalau tiga keridlaan ini ada dalam diri
seseorang maka dia menjadi orang yang benar-benar jujur dalam beriman. Hal ini
sesuai dengan firman Allah,
إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا
وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ
الصَّادِقُونَ
“Sesungguhnya
orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu lagi, dan mereka berjihad dengan
harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”
(QS. al Hujurat: 15)
Dalam
Shahihain, dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda, “tiga hal yang terdapat dalam diri seseorang, maka ia
akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain
keduanya, tidaklah ia mencintai seseorang kecuali karena Allah, dan ia benci
kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci
untuk dilemparkan ke dalam neraka.”
Dalam
riwayat Imam Ahmad, dari Abu Razin al ‘Uqaili rahimahullah, “apabila
kamu seperti itu maka benar-benar iman sudah masuk ke dalam hatimu sebagaimana
masuknya kecintaan kepada air bagi orang yang kehausan di tengah hari yang
terik.”
Makna
manisnya iman adalah nikmatnya melaksanakan ketaatan dan menanggung beban berat
dalam melaksanakan sesuatu yang diridlai Allah an Rasul-Nya serta
mengutamakan hal tersebut atas tawaran dunia.
Makna
manisnya iman adalah nikmatnya melaksanakan ketaatan dan menanggung beban berat
dalam melaksanakan sesuatu yang diridlai Allah 'Azza wa Jala dan
Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam serta mengutamakan hal tersebut
atas tawaran dunia.
Ibnul
Qayim bercerita tentang gurunya, Ibnu Taimiyah: “sungguh aku pernah mendengar
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “sesungguhnya di dalam dunia ada sebuah
surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan bisa memasuki
surga akhirat.”
sesungguhnya
di dalam dunia ada sebuah surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak
akan bisa memasuki surga akhirat.” Ibnu Taimiyah
Pada
suatu hari ia juga bercerita kepadaku, “apa yang yang akan dilakukan oleh
musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya surgaku dan tamanku ada di dalam dadaku.
Kemanapun aku pergi ia selalu bersamaku. Sungguh penjaraku adalah khalwat
(menyepi)ku bersama Allah, kematianku adalah kesyahidan, dan pengusiran diriku
dari negeriku adalah tamasya.”
Dalam
penjaranya di sebuah benteng, Ibnu Taimiyah berkata, “jika benteng bersama
isinya ini diganti dengan emas, tentu itu tidak imbang dengan nilai syukurku
kepada Allah atas nikmat ini.” Atau dengan ungkapan lain, pahala kebaikan dari
ibadah yang dilakukannya di dalam benteng penjaranya tidak bisa diukur dengan
banyaknya kemewahan dunia.
Dalam
sujud di tempat penjaranya, beliau berdoa, “Ya Allah mudahkanlah diriku untuk
berdzikir kepadamu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.”
Kemudian beliau berkata kepadaku, “penjara adalah untuk orang yang ingin
memenjarakan hatinya hanya buntuk Allah, sedangkan istana adalah untuk orang
yang ingin mengumbar nafsunya.”
Ketika
Ibnu Taimiyaha sudah ke dalam benteng penjara dan ia melihar pagar tembok
tinggi yang memagarinya, maka ia membaca ayat Al Qur’an,
فَضُرِبَ
بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ
قِبَلِهِ الْعَذَابُ
“lalu
diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di bagian dalamnya ada
rahmat dan di bagian luarnya ada adzab.” (QS. Al Hadid: 13)
Demi
ilmu Allah, dan aku tidak melihat seseorang pun yang hidupnya lebih bahagia
daripada Ibnu Taimiyah, walaupun ia berada pada sempitnya penghidupan, tiadanya
kesejahteraan dan kenikmatan. Justru aku melihat kebalikannya. Memang ia berada
dalam penjara, intimidasi dan siksaan, namun ia adalah manusia yang paling
bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling kuat hatinya dan paling tenang
jiwanya sampai kebahagiaan dan kedamaiannya memancarkan cahaya di wajahnya.
Demi
ilmu Allah, dan aku tidak melihat seseorang pun yang hidupnya lebih bahagia
daripada Ibnu Taimiyah, walaupun ia berada pada sempitnya penghidupan, tiadanya
kesejahteraan dan kenikmatan.
Jika
kami dihantui ketakutan dan dihimpit urusan dunia, maka kami datang kepadanya.
Tatkala kami melihatnya dan mendengarnya petuahnya, maka hilanglah segala
ketakutan dan kehinaan. Setelah itu kami menjadi bahagia, kuat, yakin, dan
tenang. Mahasuci Allah yang telah menunjukkan surga kepada hamba-hamba-Nya
sebelum mereka bertemu dengan-Nya. Maha Suci Allah yang telah membukakan
pintu-pintu surga di dunia sehingga mereka merasakan kedamaian, kebahagiaan,
dan kebaikan selama mereka terus berusaha dan berlomba-lomba untuk
mendapatkannya.” (Al Wabilush Shayyib, karya Ibnul Qayim, hal. 63)
Sebagian
ulama mengatakan, “orang miskin di dunia yang sebenarnya adalah orang yang meninggalkan
dunia, sementara mereka belum pernah merasakan yang paling indah di dalamnya,
yaitu cinta kepada Allah dan beribadah kepada-Nya.”
Orang
miskin di dunia adalah orang yang belum pernah merasakan cinta kepada Allah dan
nikmatnya beribadah kepada-Nya.
Orang-orang
shaleh merasakan kebahagiaan hidup dengan shalat, ibadah dan dzikir malam.
Karena itu ada ada salah seorang dari mereka sampai mengatakan, “selama empat
puluh tahun aku tidak meras sedih melainkan sedih atas datangnya waktu siang.”
Al
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “ketika matahari terbenam, aku akan
menjadi bahagia. Karena dalam kegelapan malam aku bermunajat kepada Allah.”
.
. . kenikmatan yang dirasakan orang-orang yang beribadah pada malam hari lebih
terasa nikmat daripada hiburan orang-orang yang berfoya-foya di siang hari. . .
Abu
Sulaiman ad Darani rahimahullah berkata, “kenikmatan yang dirasakan
orang-orang yang beribadah pada malam hari lebih terasa nikmat daripada hiburan
orang-orang yang berfoya-foya di siang hari. Jika bukan karena waktu malam,
maka aku tidak suka berlama-lama hidup di dunia.”
Oleh: Badrul Tamam
Monday, December 12, 2011
Ucapan Terima kasih
Segala
puja dan puji bagi Allah SWT yang telah banyak memberikan hidayah,
karunia dan nikmat yang tidak terhingga, sehingga kita masih diberikan
kesehatan, waktu dan aktifitas untuk meraih keridhoan-Nya demi
mendapatkan kemenangan yang hakiki di dunia maupun di Akhirat yang akan
datang. Dan tidak pernah terlupakan Salam dan Shalawat selalu
tercurahkan kepada suri tauladan dan junjungan kita Nabiyullah,
Rasullullah Muhammad SAW, kepada keluarga, sahabat-sahabatnya dan semoga
kita adalah bagian umatnya yang akan mendapat Syafaatnya.
Sehubungan
dengan telah berlangsungnya hari besar Islam Idul Adha 1432 H, maka
dengan ini kami selaku Panitia Qurban Perguruan Bela Diri Tenaga Dalam
Islam Prana Sakti Pusat Yogyakarta, mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang sebesar-besarnya kepada para sohibul qurban baik dari
anggota Prana Sakti maupun dari masyarakat umum, seluruh anggota Prana
Sakti Pusat dan daerah, serta semua pihak yang telah dengan ikhlas ikut
berpartisipasi dalam kegiatan qurban pada hari raya Iedul Adha tahun
1432 H ini.
Semoga
ALLAH SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita hingga
akhir jaman dan di beri kesempatan untuk kembali berkurban ditahun-tahun
yang akan datang, amin..ya robbal alaamiin…
Jogjakarta, 20 November 2011
Hormat kami,
Panitia Qurban Iedul Adha 1432 H
Perguruan Beladiri Tenaga Dalam Islam Prana Sakti Pusat - Yogyakarta
Sunday, November 13, 2011
Bertakwalah di Mana Saja Engkau Berada!
Segala
puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam untuk Rasulullah,
sayyidul anam, beserta keluarga, dan para sahabatnya.
Di
awal pekan ke tiga bulan Maret, kami sapa kepada pembaca situs berita
Islam www.voa-islam.com dengan berpesan dan berwasiat untuk senantiasa bertakwa
kepada Allah. Pesan wasiat Allah dalam kitab-Nya dan Rasulullah dalam
sunnahnya. Wasiat untuk orang terdahulu dan yang akan datang. Wasiat setiap rasul
kepada kaumnya.
وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ
أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ
"Dan
sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum
kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah." (QS. Al Nisa':
131)
Ibnul
Qayyim dalam Fawaid-nya mengatakan, "Nabi Sulaiman 'alaihis
salam berkata, 'kami telah mempelajari semua ilmu yang telah dipelajari
manusia dan belum mereka pelajari. Namun, kami tidak mendapatkan ilmu yang
paling agung daripada bertakwa kepada Allah. Karena itulah bila engkau ingin
memberi nasehat kepada seseorang yang engkau cintai; anakmu, temanmu, atau
tetanggamu, maka nasihatilah mereka agar bertakwa kepada Allah'."
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam berwasiat kepada Mu'adz bin Jabal ketika
pergi ke Yaman dan disampaikan juga kepada Abu Dzar al Ghifari radliyallah
'anhu:
اتَّقِ الله حَيثُمَا كُنْتَ ،
وأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمحُهَا ، وخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ
"Bertakwalah
kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan
perbuatan baik, niscaya (perbuatan baik) akan menghapusnya (perbuatan buruk).
Dan berperilakulah terhadap sesama manusia dengan akhlak yang baik."
(HR. Ahmad dan al Tirmidzi, beliau menghasankannya).
Makna
bertakwa di mana pun berada
Maksud
sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Bertakwalah kepada
Allah di mana saja engkau berada" adalah bertakwa kepada Allah di
manapun berada, baik di tempat sepi maupun di tempat ramai. Bertakwalah di
semua situasi dan kondisi. Jangan lah engkau bertakwa ketika berada di
tengah-tengah manusia, namun ketika sendiri engkau tidak bertakwa. Sesungguhnya
Allah melihat kamu di manapun kamu berada, maka bertakwalah kepada-Nya di
manapun kamu berada.
Sebagian
ulama salaf berkata, "wahai anak Adam, ketika kamu melakukan kemaksiatan
mengapa kamu beranggapan ada Dzat yang mengawasimu. Dan ketika kamu merasa
bersama Allah mengapa kamu tetap melakukan kemaksiatan dan tidak malu
sebagaimana kamu malu kepada makhluk-Nya. Kamu adalah salah satu dari dua
orang; pertama, jika kamu mengora Dia tidak melihatmu, maka kamu telah
kafir. Kedua, dan jika kamu tahu bahwa Dia melihatmu (sedangkan kamu
tidak malu sebagaimana kamu malu terhadap makhluk-Nya yang lemah) maka kamu
telah lancang."
Kamu adalah salah satu
dari dua orang;
Pertama, jika kamu mengira Dia tidak melihatmu, maka kamu telah kafir.
Kedua, dan jika kamu tahu bahwa
Dia melihatmu (sedangkan kamu tidak malu sebagaimana kamu malu terhadap
makhluk-Nya yang lemah) maka kamu telah lancang.
Kenapa
harus bertakwa?
Sesungguhnya
hamba sangat membutuhkan takwa dalam segala kondisi. Bahkan kebutuhan kita
kepada takwa lebih dari butuhnya kepada air dan udara. Karena siapa yang
bertakwa kepada Allah akan mendapatkan solusi dari setiap persoalan yang dihadapinya,
akan mendapatkan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka, mendapat petunjuk
kepada kebenaran sehingga bisa membedakan yang hak dan yang batil, mendapat
tambahan ilmu, dan masih banyak manfaat takwa lainnya. pada intinya bahwa takwa
adalah pokok segala kebaikan dan sumber dari segala kebaikan dunia dan akhirat.
Karenanya, Allah berwasiat sendiri kepada hamba-hamba-Nya yang terdahulu dan
yang kemudian.
Sebaliknya,
siapa yang tidak bertakwa kepada Allah akan mengalami kehinaan dan segala
persoalannya tak akan beres. Sesunggunya maksiat yang menjadi lawan takwa, akan
menyebabkan keruhnya hidup, menghalangi rizki, dan menyebabkan kerasnya hati.
Abu
Sulaiman al Darani rahimahullah berkata, "Demi Allah kadang aku
bermaksiat kepada Allah, lalu aku merasakan (pengaruhnya itu) pada watak
hewanku dan juga istriku." Artinya sampai hewanpun tidak setuju dengannya.
Apa
itu takwa?
Asal
makna takwa adalah upaya hamba menjadikan batas pelindung antara dirinya dengan
sesuatu yang dia takuti dan khawatirkan, agar selamat darinya. Maka hamba yang
bertakwa kepada Rabb-Nya adalah menjadikan batas pelindung antara dirinya
dengan murka dan siksa Tuhannya, yaitu dengan mentaati perintah-Nya dan
menjauhi maksiat.
Imam
an Nawawi rahimahullah berkata bahwa takwa adalah istilah tentang
melaksanakan segala kewajiban dan meninggalkan segala larangan.
Ibnu
Taimiyyah rahimahullah menyebutkan bahwa takwa artinya melakukan
perintah dan meninggalkan larangan.
Thuluq
ibnu Habib rahimahullah berkata tentang takwa, "engkau melaksanakan
ketaatan (melaksanakan perintah), di atas cahaya dari Allah (ilmu), dengan
berharap pahala dari Allah. Dan engkau meninggalkan maksiat terhadap Allah, di
atas cahaya Allah dari Allah, karena takut terhadap hukuman Allah."
Imam
Ali bin Abi Thalib radliyallah 'anhu berkata, "takwa adalah al
Khaufu minal Jalil (takut kepada Allah yang Mahaagung), al 'Amal bil
Tanziili (mengamalkan al Qur'an dan al Sunnah), al Ridla bil Qalil (ridla
atas pembagian rizki yang sedikit), dan al isti'dad liyaum al Rahiil
(mempersiapkan diri untuk perjalanan di akhriat)."
Sifat
takwa dalam Al Qur'an
Al
Qur'an al Kariim tidak menyebutkan takwa secara definitif. Al Qur'an
menyebutkannya dengan sifat-sifat orang bertakwa yang mudah di tiru dan
diteladani orang yang bertakwa.
Berikut
ini beberapa ayat yang menerangkan sifat-sifat takwa:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا
وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ
وَآَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ
وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ
وَآَتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ
فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا
وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
"Bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi
sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat,
kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan
orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat,
dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah
orang-orang yang bertakwa." (QS. Al Baqarah: 177)
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ
رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ
وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ وَالَّذِينَ إِذَا
فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا
لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى
مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu)
orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang
apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat
akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang
dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan
perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Ali Imran:
133-135)
Al
Qur'an menyifati orang-orang bertakwa sebagai
kaum yang mengimani pokok-pokok keimanan, memegang keyakinannya, mengamalkan
amal dzahir dan amal batin, menunaikan ibadah-ibadah badaniyah (fisik) dan
ibadah harta, bersabar dalam kesempitan dan ketika dalam peperangan, memaafkan
orang lain, bersabar terhadap gangguan orang lain dan berbuat baik kepada mereka,
segera beristighfar dan bertaubat ketika melakukan perbuatan nista dan
mendzalimi diri sendiri.
Berarti hanya orang Islam
dan beriman saja yang bisa bertakwa kepada Allah. Selain orang Islam, sebaik
apapun amal perbuatannya, tidak bisa disebut orang bertakwa.
Semoga
Allah senantiasa menambah ketakwaan kepada kita dan membantu kita dalam
bertakwa kepada-Nya untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat. Amiin…
Oleh:
Badrul Tamam
Subscribe to:
Posts (Atom)
